Gunung Api Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya yang signifikan. Fenomena erupsi ini berhasil tertangkap oleh citra satelit, memberikan gambaran detail mengenai ketinggian material vulkanik yang dilontarkan. Analisis mendalam terhadap data satelit ini dilakukan oleh Profesor Erma Yulihastin, yang menduga kuat bahwa material erupsi telah menembus lapisan tropopause, batas teratas troposfer yang menjadi pemisah dengan stratosfer.
Menurut Profesor Erma Yulihastin, yang merupakan peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ketinggian lontaran material vulkanik dari Gunung Api Anak Krakatau diperkirakan mencapai 3.000 meter di atas permukaan laut. Ketinggian ini menjadi krusial dalam menentukan dampaknya terhadap atmosfer.
Analisis ini didasarkan pada observasi yang dilakukan pada tanggal 12 April 2024. “Awan panas yang diluncurkan dari Gunung Api Anak Krakatau ini jika dilihat dari citra satelit, ketinggiannya bisa mencapai 3.000 meter dari permukaan laut,” jelas Profesor Erma dalam keterangannya pada Kamis (18/4/2024).
Lebih lanjut, Profesor Erma merinci bahwa awan panas yang dilontarkan oleh Gunung Api Anak Krakatau pada tanggal tersebut memiliki karakteristik yang tidak biasa. Ketinggian mencapai 3.000 meter ini sangat mungkin telah menembus lapisan tropopause. Lapisan tropopause sendiri berada pada ketinggian rata-rata sekitar 11 kilometer atau 11.000 meter di atas permukaan laut.
Jika material vulkanik benar-benar mencapai dan menembus tropopause, hal ini dapat menimbulkan konsekuensi yang lebih luas, terutama terkait dengan penyebaran abu vulkanik dan potensi dampaknya terhadap cuaca dan iklim. Ketinggian lontaran yang ekstrem ini biasanya dikaitkan dengan erupsi yang lebih eksplosif.
Profesor Erma Yulihastin terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Api Anak Krakatau dan dampaknya terhadap lingkungan atmosfer. Data satelit menjadi alat penting dalam memahami skala dan jangkauan erupsi vulkanik, serta memprediksi potensi bahaya yang ditimbulkannya.
