Saturday, 5 September 2026
BREAKING
LIFESTYLE

Psikologi Ungkap Alasan Perjalanan Pulang Terasa Lebih Singkat

Oleh Muzairi M September 5, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Fenomena umum yang dialami banyak orang, yakni perjalanan pulang terasa lebih cepat dibandingkan saat berangkat, ternyata memiliki penjelasan ilmiah dalam bidang psikologi. Fenomena ini dikenal dengan istilah ‘return trip effect’.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Para ahli psikologi menjelaskan bahwa ada beberapa faktor kognitif dan emosional yang berperan dalam persepsi waktu kita selama perjalanan. Salah satunya adalah terkait dengan ekspektasi dan familiaritas.

Saat melakukan perjalanan pergi, kita cenderung lebih waspada terhadap lingkungan sekitar, mencatat hal-hal baru, dan mungkin merasa sedikit cemas atau bersemangat. Otak kita bekerja lebih keras untuk memproses informasi baru ini, sehingga waktu terasa berjalan lebih lambat. Sebaliknya, saat perjalanan pulang, rute yang dilalui sudah familier. Kita tidak lagi perlu bersusah payah mengamati detail-detail baru, dan tingkat kewaspadaan kita cenderung menurun. Otak yang lebih rileks dan terbiasa dengan lingkungan membuat persepsi waktu menjadi lebih singkat.

Faktor lain yang berkontribusi adalah tujuan. Ketika kita melakukan perjalanan pergi, fokus utama kita adalah mencapai tujuan. Perjalanan itu sendiri seringkali dilihat sebagai sebuah ‘rintangan’ yang harus dilalui. Namun, saat perjalanan pulang, tujuan kita adalah rumah, tempat yang diasosiasikan dengan kenyamanan dan relaksasi. Keinginan untuk segera sampai di rumah dapat membuat kita secara tidak sadar mempercepat persepsi waktu.

Selain itu, memori juga memainkan peran. Ketika kita mengingat kembali sebuah perjalanan, otak cenderung menyimpan informasi yang paling menonjol. Pada perjalanan pergi, banyak informasi baru yang mungkin terekam. Sementara pada perjalanan pulang, karena kurangnya stimulus baru, ingatan kita mungkin lebih sedikit detail, sehingga secara retrospektif terasa lebih singkat.

Psikolog telah lama meneliti fenomena ini. Salah satu pandangan menyatakan bahwa ‘return trip effect’ berkaitan dengan bagaimana otak kita memproses informasi yang sudah dikenal. Ketika kita menghadapi sesuatu yang baru, otak membutuhkan lebih banyak sumber daya kognitif untuk memahaminya, yang kemudian dapat memperlambat persepsi waktu. Sebaliknya, ketika kita menghadapi sesuatu yang familier, pemrosesan informasi menjadi lebih efisien, dan waktu terasa berlalu lebih cepat.

Dengan demikian, ‘return trip effect’ bukanlah ilusi semata, melainkan sebuah manifestasi dari cara kerja kognisi dan emosi manusia dalam mempersepsikan durasi waktu berdasarkan tingkat familiaritas, ekspektasi, dan tujuan perjalanan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp