Legenda Bulu Tangkis: Lima Juara Dunia Tertua yang Buktikan Usia Bukan Halangan

Wibowo

Kemenangan di Kejuaraan Dunia BWF (Badminton World Federation) merupakan salah satu pencapaian tertinggi dalam dunia bulu tangkis. Umumnya, para juara meraih puncak karier mereka di usia 20-an, masa di mana kecepatan, kelincahan, dan daya tahan berada pada titik optimal. Namun, sejarah telah mencatat sejumlah nama yang berhasil mendobrak batasan usia tersebut, meraih gelar juara dunia di usia 30-an dan membuktikan bahwa pengalaman seringkali dapat mengungguli semangat muda.

Daftar ini menampilkan lima atlet bulu tangkis tertua yang berhasil menorehkan sejarah sebagai juara dunia. Mereka bukan hanya sekadar berpartisipasi, tetapi juga mendominasi panggung dunia di usia yang bagi banyak atlet lain mungkin sudah dipertimbangkan untuk pensiun.

Hendra Setiawan: Sang Raja Ganda Putra di Usia Emas

Menempati posisi puncak daftar ini adalah pebulu tangkis ganda putra legendaris Indonesia, Hendra Setiawan. Ia mengukuhkan namanya sebagai juara dunia tertua setelah memenangkan gelar Kejuaraan Dunia 2019 bersama pasangannya, Mohammad Ahsan, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-35. Ini bukan kali pertama Hendra merasakan gelar juara dunia; ia sebelumnya telah meraihnya pada tahun 2007, 2013, dan 2015.

Kembalinya Hendra meraih mahkota juara dunia di Basel, Swiss, melengkapi sebuah perjalanan karier yang luar biasa dalam olahraga tepok bulu. Jeda waktu 12 tahun antara gelar juara dunia pertamanya dan yang terakhir menjadi bukti ketahanan dan performa luar biasa Hendra yang melampaui usia biologisnya.

Dalam laga final yang menegangkan di Basel, "The Daddies" – julukan Hendra dan Ahsan – harus bertarung sengit selama 64 menit melawan pasangan Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi. Pertarungan ketat itu berakhir dengan skor 25-23, 9-21, 21-15 untuk kemenangan Hendra/Ahsan, yang semakin memantapkan status mereka sebagai salah satu duet ganda putra terhebat sepanjang masa. Keberhasilan ini tidak hanya soal gelar, tetapi juga tentang semangat juang dan dedikasi yang tak pernah padam.

Thomas Kihlstrom: Kejutan Ganda Campuran dari Swedia

Sebelum rekor Hendra Setiawan tercipta, nama Thomas Kihlstrom dari Swedia telah lebih dulu mencatatkan diri sebagai salah satu juara dunia tertua. Pada tahun 1983, Kihlstrom berhasil meraih gelar juara dunia ganda campuran di Kopenhagen, Denmark, berpasangan dengan Nora Perry dari Inggris.

Dalam pertandingan final yang digelar di kandang sendiri, Kihlstrom dan Perry tampil dominan menghadapi pasangan Denmark, Steen Fladberg/Pia Nielsen. Kemenangan telak dengan skor 15-1, 15-11 mengantarkan mereka meraih medali emas. Prestasi Kihlstrom ini menjadi rekor yang bertahan selama 36 tahun, sebuah rentang waktu yang sangat panjang dalam dinamika olahraga yang terus berubah. Keberadaannya dalam daftar ini menunjukkan bahwa di era 80-an pun, pengalaman dan strategi matang dapat menjadi kunci kemenangan di level tertinggi.

Mohammad Ahsan: Konsistensi Sang Legenda Ganda Putra

Tak hanya Hendra Setiawan, Mohammad Ahsan, partner setia Hendra, juga masuk dalam daftar ini. Ahsan meraih gelar juara dunianya yang ketiga bersama Hendra di Kejuaraan Dunia 2019, tepat pada usia 31 tahun 352 hari. Kemenangan ini terasa lebih istimewa karena diraih dengan perjuangan yang lebih berat dibandingkan dua gelar sebelumnya.

Berbeda dengan dua final juara dunia mereka sebelumnya yang dimenangkan dalam dua game langsung, di Basel, Ahsan dan Hendra harus berjuang hingga tiga game untuk menaklukkan Hoki/Kobayashi. Kemenangan ini tidak hanya membuktikan ketangguhan fisik dan mental mereka, tetapi juga kemampuan adaptasi yang luar biasa dalam menghadapi lawan yang terus berkembang. Ahsan membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus bersaing di level elit.

Liliyana Natsir: Emas Keempat di Akhir Karier yang Gemilang

Dari sektor ganda campuran, Liliyana Natsir, yang akrab disapa Butet, juga mengukir sejarah sebagai salah satu juara dunia tertua. Pada Kejuaraan Dunia 2017 di Glasgow, Skotlandia, Butet meraih gelar juara dunianya yang keempat sekaligus terakhir bersama Tontowi Ahmad. Usianya saat itu adalah 31 tahun 352 hari.

Butet bukan pendatang baru di tangga juara dunia. Ia telah meraih gelar sebelumnya bersama Nova Widianto pada tahun 2005 dan 2007. Kemenangan di Glasgow menjadi penutup manis bagi karier gemilangnya, terutama setelah sebelumnya meraih medali emas Olimpiade Rio 2016 bersama Tontowi Ahmad. Di final Kejuaraan Dunia 2017, pasangan Indonesia ini berhasil mengalahkan duo muda Tiongkok yang sedang naik daun, Zheng Si Wei dan Chen Qing Chen, menunjukkan dominasi dan pengalaman mereka.

Thomas Laybourn: Kejutan Denmark di India

Atlet terakhir dalam daftar ini adalah Thomas Laybourn dari Denmark. Ia meraih gelar juara dunia ganda campuran pada tahun 2009 bersama Kamilla Rytter Juhl. Prestasi ini sangat istimewa karena diraih di India, satu-satunya saat itu Kejuaraan Dunia diselenggarakan di negara tersebut.

Perjalanan Laybourn dan Juhl menuju gelar juara dunia terbilang impresif. Mereka berhasil mengalahkan tiga pasangan unggulan teratas di sepanjang turnamen. Di partai final, mereka secara mengejutkan menaklukkan pasangan juara bertahan dari Indonesia, Nova Widianto/Liliyana Natsir, dengan skor 21-13, 21-17. Kemenangan ini menjadi bukti bahwa kombinasi antara pengalaman dan semangat muda dapat menghasilkan performa yang tak terduga.

Potensi Pemecahan Rekor di Masa Depan

Pertanyaan besar yang sering muncul adalah, mungkinkah rekor ini akan terpecahkan di masa depan? Dalam konteks Kejuaraan Dunia yang akan datang, Chou Tien Chen, tunggal putra andalan Chinese Taipei, muncul sebagai salah satu kandidat terkuat yang memiliki peluang realistis untuk menorehkan sejarah baru.

Jika Chou Tien Chen berhasil mencapai dan memenangkan partai final, ia akan berusia 36 tahun 227 hari pada hari pertandingan final. Usia ini akan melampaui rekor Hendra Setiawan dan menjadikannya juara dunia tertua dalam sejarah bulu tangkis. Mengingat tuntutan fisik yang sangat tinggi dalam nomor tunggal putra modern, pencapaian ini tentu akan menjadi salah satu prestasi paling luar biasa yang pernah disaksikan dalam olahraga ini. Keberhasilan Chou Tien Chen akan menjadi bukti nyata bahwa dedikasi, latihan keras, dan kecintaan pada permainan dapat menembus batasan usia.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All