Misi Bersejarah Panama di Piala Dunia 2026: Tantangan Berat bagi Inggris

Danu Ilham

Panama akan menghadapi Inggris dalam laga yang digelar di New Jersey pada Sabtu mendatang, sebuah pertandingan di mana Los Canaleros sejatinya sudah tidak memiliki peluang untuk lolos ke babak gugur. Meskipun telah dipastikan tersingkir setelah menelan dua kekalahan tipis, 1-0 dari Ghana di laga pembuka dan 1-0 dari Kroasia yang sedikit kurang beruntung, tim Amerika Tengah ini memiliki motivasi yang jauh lebih besar: mengejar poin perdana mereka di ajang Piala Dunia.

Bagi Panama, mendapatkan satu poin saja dari enam kali percobaan di Piala Dunia akan menjadi pencapaian monumental. Pada debut mereka di edisi 2018, mereka harus pulang tanpa satu pun poin setelah kalah di ketiga pertandingan grup. Oleh karena itu, hasil positif melawan tim sekelas Inggris akan menjadi pernyataan penting dan puncak karier bagi generasi veteran pemain serta pelatih mereka yang telah lama bersama.

Perjalanan sepak bola Panama menuju panggung global adalah kisah yang inspiratif. Hingga tahun 2004, tim nasional Panama bahkan tidak pernah masuk dalam daftar 100 besar peringkat FIFA. Namun, berkat kerja keras dan dedikasi, mereka secara konsisten merangkak naik. Pada tahun 2023, Panama berhasil memantapkan diri sebagai tim 50 besar dunia, bahkan sempat mencapai peringkat tertinggi ke-29 pada tahun sebelumnya.

Prestasi ini bukan tanpa bukti nyata. Panama berhasil mencapai babak gugur di Copa América 2024, menembus final Concacaf Nations League 2025, dan meraih medali perak ketiga mereka di Gold Cup 2023. Yang lebih menarik, mereka menjelma menjadi batu sandungan besar bagi tim nasional putra Amerika Serikat (USMNT), yang selama setengah dekade terakhir mendominasi kawasan tersebut. Dalam ketiga kompetisi tersebut, Panama sukses menyingkirkan USMNT.

Rahasia di balik kesuksesan Los Canaleros terletak pada kekompakan tim yang telah terbangun selama bertahun-tahun. Sepak bola mereka memang tidak selalu indah, namun efisien dan penuh determinasi. Dari 26 pemain yang dibawa ke Piala Dunia kali ini, separuh di antaranya berusia di atas 30 tahun, dan tiga pemain lainnya berusia 29 tahun. Hanya ada satu pemain di bawah usia 25 tahun dalam skuad mereka, menunjukkan betapa berpengalamannya tim ini.

Lebih lanjut, empat pemain telah mengantongi lebih dari 100 caps internasional, sementara Fidel Escobar memiliki 99 caps dan Michael Amir Murillo dengan 96 caps. Durasi kebersamaan yang panjang ini memungkinkan mereka untuk menguasai seni "menggiling hasil" atau grind out results, sebuah spesialisasi Panama yang sangat mengandalkan pertahanan kokoh dan serangan balik cepat.

Di balik performa impresif ini adalah sosok Thomas Christiansen, manajer berdarah Spanyol-Denmark yang telah menjabat sebagai pelatih kepala sejak tahun 2020. Pengamat sepak bola Concacaf secara luas menganggap Christiansen sebagai pelatih paling cerdas di kawasan itu, bahkan melampaui nama-nama besar seperti Mauricio Pochettino dari AS, Javier Aguirre dari Meksiko, atau Jesse Marsch dari Kanada.

Sebelum melatih Panama, karier manajerial Christiansen terbilang biasa saja, termasuk masa singkatnya bersama Leeds United selama musim Championship 2017-18. Namun, pelatih yang ramah ini berhasil membentuk kolektivitas yang luar biasa dari para pemain yang sebelumnya tidak diunggulkan. Timnya mampu tampil jauh melampaui jumlah talenta individual mereka. Sebagian besar pemain Panama bermain untuk klub-klub yang kurang dikenal, dengan pengecualian José Córdoba yang merumput di Norwich City dan beberapa pemain di Major League Soccer (MLS) serta Liga MX.

Meskipun mengandalkan pertahanan, Panama memiliki pemain-pemain yang patut diwaspadai dalam skema serangan balik. Cristian Martínez adalah salah satu "orang berbahaya" mereka. Ia bahkan dinobatkan sebagai man of the match saat timnya kalah dari Kroasia, menunjukkan betapa berbahayanya ia di sisi kanan lapangan melalui serangan balik. Martínez berulang kali berhasil menemukan ruang di belakang Josko Gvardiol, namun kurangnya koneksi dengan José Fajardo yang bermain sendirian di depan membuat peluang-peluang itu gagal dimanfaatkan.

Selain Martínez, kecepatan di sayap juga akan menjadi ancaman. Michael Murillo akan mendukung di sisi kanan, sementara kombinasi José Luis Rodríguez dan César Blackman kemungkinan besar akan mencoba mengeksploitasi sisi kiri pertahanan lawan.

Taktik utama Panama sangat jelas: menerapkan "nihilisme sepak bola" yang serupa dengan Ghana asuhan Carlos Queiroz. Dengan formasi 4-5-1 yang sangat rapat, Los Canaleros akan bertahan dalam blok rendah, membiarkan Inggris menguasai bola dan menyerang. Strategi mereka adalah menyerap tekanan, kemudian melancarkan serangan balik cepat, berharap bisa menyelinap satu atau dua kali untuk mencetak gol.

Bagi Inggris, tantangan untuk membongkar pertahanan Panama tidak akan mudah. Kroasia sendiri baru bisa memecah kebuntuan dan membuka garis pertahanan Panama yang rapat setelah mereka unggul terlebih dahulu, yang kemudian memaksa Panama untuk keluar menyerang demi mencari gol penyama kedudukan. Selama anak asuh Christiansen memutuskan untuk tetap bertahan dalam blok rendah mereka, Inggris harus bekerja keras mencari celah terkecil.

Panama dikenal tidak menyisakan ruang "setengah lapangan" (half-spaces) yang biasanya menjadi area krusial untuk membangun serangan. Oleh karena itu, pelatih Inggris, Thomas Tuchel, harus menemukan cara untuk menarik pemain-pemain Panama keluar dari posisinya dengan menciptakan overload di area tertentu, membuka jalur menuju gawang. Mencoba mengalahkan Panama dengan umpan silang dan sundulan juga tidak akan efektif, mengingat centre-back mereka seperti Jiovany Ramos, José Córdoba, dan Andrés Andrade sangat tangguh dalam duel udara.

Pertemuan terakhir kedua tim di Piala Dunia terjadi pada 24 Juni 2018, dalam pertandingan grup kedua mereka di Rusia, tepatnya di Nizhny Novgorod. Saat itu, Inggris berhasil menang telak 6-1, di mana Harry Kane mencetak hat-trick (termasuk dua penalti), John Stones menyumbangkan dua gol, dan Jesse Lingard melengkapi pesta gol. Menariknya, setelah pertandingan ini, Panama akan tercatat telah memainkan sepertiga (33,3%) dari total pertandingan Piala Dunia mereka melawan Inggris.

Meskipun impian lolos ke babak gugur telah pupus, pertandingan melawan Inggris bukan sekadar formalitas bagi Panama. Ini adalah kesempatan untuk mengukir sejarah, meraih poin pertama di panggung terbesar sepak bola, dan membuktikan evolusi mereka sebagai kekuatan regional yang patut diperhitungkan. Bagi generasi emas Los Canaleros, ini adalah kesempatan terakhir untuk meninggalkan warisan di Piala Dunia, membuat laga ini menjadi pertarungan kehormatan yang penuh makna.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All