Peritel Farmasi Berkilah di Tengah Tekanan Rupiah, Optimalkan Event untuk Dongkrak Penjualan

Yohanes

JAKARTA – Di tengah bayang-bayang pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang turut dipicu oleh ketegangan geopolitik global, industri farmasi nasional menghadapi tantangan berat. Namun, di tengah ketidakpastian ekonomi tersebut, geliat sektor ritel farmasi menunjukkan optimisme. Salah satu pemain utama, VIVA Apotek, berhasil membukukan peningkatan penjualan signifikan berkat strategi partisipasi aktif dalam berbagai ajang pameran.

Keberhasilan ini tercermin jelas dalam partisipasi VIVA Apotek pada gelaran BeautyFest Asia 2026 yang baru-baru ini diselenggarakan di Mall Kota Kasablanka, Jakarta. Sebagai salah satu jejaring peritel farmasi terkemuka, VIVA Apotek menampilkan sembilan merek prinsipal yang hadir untuk menawarkan beragam produk farmasi unggulan. Acara yang merupakan festival kecantikan dan gaya hidup terbesar di Indonesia ini menjadi panggung strategis bagi VIVA Apotek untuk menjangkau konsumen secara langsung dan menawarkan promosi menarik.

Presiden Direktur VIVA Apotek, Haryanto Winata, mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian timnya. Ia melaporkan bahwa partisipasi dalam BeautyFest Asia 2026 berhasil mendongkrak penjualan sebesar 35% jika dibandingkan dengan partisipasi mereka pada tahun sebelumnya. Angka ini menjadi indikator kuat mengenai tingginya minat dan antusiasme masyarakat terhadap produk-produk kesehatan dan kecantikan yang dihadirkan oleh industri farmasi.

Lebih lanjut, Haryanto Winata menekankan bahwa peningkatan performa penjualan ini tidak hanya sekadar angka. Hal ini juga memperkuat posisi VIVA Apotek sebagai salah satu jaringan ritel farmasi yang terus berkembang dan menjadi "pharmacy destination" pilihan di Indonesia. Keberhasilan ini membuktikan bahwa strategi yang berfokus pada pengalaman konsumen dan penawaran produk yang relevan mampu memberikan dampak positif, bahkan di tengah kondisi ekonomi makro yang kurang menguntungkan.

Selama tiga hari penyelenggaraan BeautyFest Asia 2026, booth VIVA Apotek menjadi magnet bagi pengunjung. Berbagai program interaktif disajikan untuk menciptakan pengalaman belanja yang tak terlupakan. Mulai dari promo eksklusif yang memberikan potongan harga menggiurkan, penawaran kilat atau flash deals yang menarik perhatian, hingga aneka permainan berhadiah yang menghibur. Tidak ketinggalan, aktivasi media sosial juga gencar dilakukan untuk memperluas jangkauan dan keterlibatan konsumen.

VIVA Apotek juga berhasil mengintegrasikan pengalaman belanja omnichannel, menggabungkan kemudahan berbelanja secara daring (online) dan luring (offline). Hal ini memungkinkan konsumen untuk berinteraksi dengan merek dan produk VIVA Apotek melalui berbagai kanal, memberikan fleksibilitas dan kenyamanan dalam bertransaksi. Pendekatan ini sangat relevan dengan tren konsumen modern yang menghargai kemudahan akses dan pilihan.

"Kami sangat mengapresiasi antusiasme pengunjung selama BeautyFest Asia 2026 berlangsung. Pencapaian pertumbuhan sales sebesar 35% menjadi motivasi bagi kami untuk terus menghadirkan pengalaman retail kesehatan dan kecantikan yang lebih inovatif, relevan, dan dekat dengan kebutuhan konsumen," ujar Haryanto Winata, Presiden Direktur VIVA Apotek. Pernyataan ini menegaskan komitmen VIVA Apotek untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan dinamika pasar serta preferensi konsumen.

Pelemahan rupiah memang menjadi isu serius yang membebani industri farmasi, terutama bagi perusahaan yang sangat bergantung pada impor bahan baku obat (BBO). Sebagian besar produsen farmasi di Indonesia masih mengandalkan pasokan BBO dari luar negeri, sehingga fluktuasi nilai tukar mata uang asing memiliki dampak langsung pada biaya produksi. Kenaikan biaya produksi ini berpotensi diteruskan ke harga jual produk, yang pada akhirnya dapat membebani konsumen.

Namun, strategi ritel seperti yang dilakukan VIVA Apotek menunjukkan bahwa ada celah bagi para pemain di industri ini untuk tetap tumbuh. Fokus pada peningkatan volume penjualan melalui event, penawaran promosi yang menarik, serta pemanfaatan kanal digital dan pengalaman belanja terintegrasi dapat menjadi bantalan terhadap tekanan dari sisi biaya.

Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus berupaya mendorong kemandirian industri farmasi nasional, salah satunya dengan mendorong peningkatan penggunaan produk dalam negeri dan riset pengembangan bahan baku obat lokal. Meskipun upaya ini membutuhkan waktu dan investasi besar, langkah-langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada impor di masa mendatang dan memperkuat ketahanan industri farmasi Indonesia.

Ke depan, para peritel farmasi dituntut untuk lebih gesit dalam beradaptasi. Inovasi produk, strategi pemasaran yang kreatif, dan pemahaman mendalam terhadap perilaku konsumen akan menjadi kunci untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang. Partisipasi dalam berbagai ajang pameran dan festival, seperti yang dilakukan VIVA Apotek, terbukti menjadi salah satu strategi efektif untuk meningkatkan visibilitas merek, membangun kedekatan dengan konsumen, dan pada akhirnya mendorong pertumbuhan penjualan di tengah tantangan ekonomi.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All