Author: Herfansyah

  • Indonesia Resmi Deklarasikan Middle Way AI, Arah Baru Pengembangan Teknologi Berkeadilan

    Indonesia Resmi Deklarasikan Middle Way AI, Arah Baru Pengembangan Teknologi Berkeadilan

    Indonesia kini memiliki arah baru dalam pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Pemerintah secara resmi mendeklarasikan konsep Middle Way AI yang menempatkan keseimbangan antara inovasi teknologi, kedaulatan data, dan kepentingan masyarakat sebagai pilar utama.

    Deklarasi ini diinisiasi oleh Founder & Chairman Digital Divide Institute, Professor Craig Warren Smith PhD, bersama anggota Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (Wantiknas), Dr.-Ing. H. Ilham Akbar Habibie. Peresmian tersebut berlangsung di Wisma Habibie Ainun, Jakarta, bertepatan dengan peringatan hari lahir Presiden ke-3 RI, B.J. Habibie.

    Konsep Middle Way AI hadir sebagai jalan tengah yang menolak dua pendekatan ekstrem. Pertama, dominasi kepentingan pasar global yang kerap mengabaikan kedaulatan nasional. Kedua, regulasi yang terlalu restriktif hingga justru menghambat laju inovasi teknologi di tanah air.

    Ilham Akbar Habibie menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam ekosistem AI global. Hal ini didukung oleh jumlah populasi yang besar, pertumbuhan ekonomi digital yang pesat, serta luasnya jaringan usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM.

    Menurutnya, AI tidak boleh dipandang sekadar sebagai instrumen efisiensi bisnis. Sebaliknya, teknologi ini harus menjadi alat untuk memperluas partisipasi ekonomi masyarakat luas agar tidak terjadi pelebaran kesenjangan digital.

    Dalam kerangka ini, aspek manusia, kesadaran, kedaulatan data, serta pemerataan akses ditempatkan sebagai fokus utama. Tata kelola AI yang transparan dan akuntabel menjadi syarat mutlak agar Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi mampu menentukan arah pengembangan sesuai kepentingan nasional.

    Professor Craig Warren Smith menambahkan bahwa pendekatan ini berupaya menempatkan kepentingan publik sebagai pusat dari setiap kemajuan teknologi. Harapannya, inovasi yang tercipta tetap mampu menjaga kedaulatan data sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata bagi seluruh lapisan masyarakat.

    Agenda ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, hingga pelaku industri. Beberapa instansi yang hadir antara lain Kementerian Komunikasi dan Digital, BSSN, Bappenas, KORIKA, serta sejumlah perguruan tinggi seperti UI, UGM, dan IPB.

    Ke depan, konsep Middle Way AI akan terus disempurnakan melalui proses kolaboratif. Keterlibatan pakar internasional, seperti Professor Soraj Hongladarom dari Chulalongkorn University yang ahli di bidang etika AI dan filsafat teknologi, akan memperkuat kerangka kelembagaan yang tengah disusun.

    Melalui Deklarasi Jakarta ini, Indonesia menegaskan posisinya untuk lebih aktif dalam membangun tata kelola AI global. Fokus utamanya bukan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan adanya keadilan, kedaulatan, dan manfaat teknologi yang dirasakan oleh seluruh masyarakat.

  • Tujuh Dekade Gobel Group: Dari Mimpi Sederhana Menjadi Raksasa Industri Nasional

    Tujuh Dekade Gobel Group: Dari Mimpi Sederhana Menjadi Raksasa Industri Nasional

    Kisah sukses Gobel Group bermula dari sebuah pemandangan pilu di pinggiran Sungai Ciliwung, Jakarta. Thayeb Mohammad Gobel, seorang petinggi di perusahaan percetakan Fasco, kerap merenung melihat kemiskinan yang kontras dengan kehidupannya yang mapan. Kenangan masa kecilnya di Tolotio, Gorontalo, di mana ia pernah belajar berdagang pisang, kembali membakar semangatnya untuk menjadi seorang saudagar.

    Keinginan Thayeb untuk mandiri membawanya pada serangkaian tantangan berat. Meski sempat memegang jabatan mentereng, ia nekat melepas pekerjaannya demi mengejar mimpi sebagai pengusaha. Perjalanan awal tidaklah mudah. Berbagai bidang bisnis, mulai dari mebel, perdagangan motor, hingga logistik laut, sempat ia geluti namun berakhir dengan kegagalan. Ia bahkan sempat merasakan pahitnya menjadi pengangguran yang harus berjalan kaki di kawasan Kota Tua demi mencari peluang kerja.

    Titik balik kehidupan Thayeb terjadi saat ia bergabung dengan NV Behring di Jalan Pinangsia. Di perusahaan perakitan radio tersebut, ia mempelajari seluk-beluk industri elektronik. Pengalaman ini mematangkan visinya untuk tidak sekadar berdagang, melainkan membangun industri sendiri. Pada 1954, ia mendirikan PT Transistor Radio Manufacturing di Cawang, yang kelak melahirkan Radio Tjawang, sebuah merek legendaris kebanggaan masyarakat Indonesia.

    Kesuksesan Thayeb semakin bersinar setelah bertemu Konosuke Matsushita di Jepang pada 1957. Pertemuan itu membuahkan kemitraan strategis pada 1960. Produk mereka pun menjadi primadona, termasuk saat memproduksi 10.000 unit televisi hitam-putih untuk perhelatan Asian Games 1962. Presiden Soekarno bahkan sempat memanggil Thayeb karena kagum dengan radio transistor Tjawang yang mampu menjangkau desa-desa terpencil tanpa aliran listrik.

    Kini, di usia ke-70 tahun, Gobel Group telah bertransformasi menjadi konglomerasi besar dengan 18.000 karyawan. Perusahaan ini bergerak di empat lini bisnis utama: elektronik dan manufaktur, perdagangan dan layanan, makanan dan perhotelan, serta properti dan infrastruktur. Fondasi yang dibangun Thayeb kini dilanjutkan oleh putra pertamanya, Rachmat Gobel, yang terus menjaga visi dan filosofi usaha sang ayah.

    Keberhasilan regenerasi kepemimpinan ini menjadi bukti bahwa Gobel Group mampu melampaui tantangan suksesi yang kerap mematikan perusahaan keluarga. Dengan tata kelola yang kuat dan adaptasi zaman, warisan Thayeb Mohammad Gobel terus berkontribusi bagi ekonomi Indonesia. Perjalanan panjang ini menjadi inspirasi bagaimana sebuah mimpi besar, jika disertai kegigihan dan visi yang tepat, mampu mengubah nasib bangsa sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.

  • Transformasi Industri Film Indonesia, SHOW Token Kucurkan Investasi Raksasa Berbasis Blockchain dan AI

    Transformasi Industri Film Indonesia, SHOW Token Kucurkan Investasi Raksasa Berbasis Blockchain dan AI

    Industri perfilman Indonesia kini berada di ambang era baru. SHOW Token resmi memperkenalkan ekosistem berbasis blockchain dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk mendongkrak pendanaan ekonomi kreatif nasional.

    Peluncuran yang berlangsung pada 26 Juni 2026 ini membawa misi besar. Perusahaan menargetkan investasi mencapai USD100 juta di Asia Tenggara, dengan fokus utama memperkuat posisi film lokal di kancah global.

    CEO SHOW Token, Akshay Melwani, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki kekayaan narasi yang luar biasa. Namun, potensi tersebut sering kali terhambat oleh akses pasar internasional dan keterbatasan infrastruktur.

    Melalui konsep bertajuk Bridging Crypto and Entertainment: Invest Beyond the Screen, pihaknya ingin memangkas batasan tersebut. SHOW Token hadir sebagai jembatan bagi karya anak bangsa agar bisa diakses dan diapresiasi dunia tanpa perantara.

    Ekosistem ini ditopang oleh empat pilar utama. Pertama adalah SHOW Movie yang menerapkan sistem watch and earn. Selanjutnya ada SHOW AI and Marketplace sebagai ruang produksi konten berbasis AI, serta SHOW KIDS yang fokus mengembangkan kekayaan intelektual atau IP animasi berbasis budaya lokal.

    Secara teknis, SHOW Token dikembangkan di atas jaringan Ethereum ERC-20 dengan total pasokan 100 juta token. Struktur ini dirancang untuk menjaga kelangkaan aset sekaligus menjamin stabilitas pasar bagi para investor.

    Di sektor perfilman, kolaborasi telah mulai membuahkan hasil. SHOW Token menjadi executive producer untuk film horor Cerita Lila yang sukses menggaet 500 ribu penonton pada pekan perdana. Langkah ini akan berlanjut ke film Sihir Tanah Kubur yang siap tayang pada Juli 2026.

    Tidak tanggung-tanggung, tahun ini SHOW Token membidik pendanaan lebih dari 30 film bergenre horor dan drama. Kerja sama strategis telah dijalin dengan MVP Pictures, A&Z Production, serta sejumlah studio lokal dan internasional.

    Beberapa proyek yang masuk dalam daftar garapan di antaranya Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, Taboo, Siti Vampire, dan Sebelum Tiga Puluh.

    Chief Operating Officer (COO) SHOW, Joshua Khubani, menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan sekadar soal angka. Mereka ingin membangun arsitektur baru bagi ekonomi kreatif digital yang selama ini mengalami inefisiensi likuiditas.

    Bagi pemegang token, tersedia berbagai utilitas menarik. Mulai dari skema Decentralized Executive Producing, akses eksklusif balik layar, tiket gala premiere, hingga potensi pembagian insentif dari pendapatan proyek.

    SHOW Token kini telah diperdagangkan di bursa kripto internasional seperti Toobit dan Bitconomy. Perusahaan juga tengah memproses pencatatan di bursa global lainnya untuk memperluas jangkauan ekosistem mereka.

    Kehadiran inovasi ini diharapkan mampu menjadi katalisator bagi kolaborasi antara sineas, pegiat teknologi, dan pemerintah untuk meningkatkan daya saing konten lokal di pasar global.

  • Indonesia Kini Jadi Juara Penggunaan AI di Sektor Pendidikan Dunia

    Indonesia Kini Jadi Juara Penggunaan AI di Sektor Pendidikan Dunia

    Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence di dunia pendidikan Indonesia menunjukkan tren yang sangat masif. Bahkan, Indonesia kini menempati posisi teratas sebagai negara dengan tingkat penggunaan AI tertinggi di antara 15 negara yang disurvei.

    Data tersebut merujuk pada temuan Global Student Survey 2025 yang dirilis oleh Chegg. Hasil survei menunjukkan bahwa pelajar di Tanah Air semakin bergantung pada teknologi canggih ini untuk menunjang aktivitas akademik maupun pengembangan diri.

    Secara rinci, sebanyak 86 persen responden di Indonesia menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas sekolah atau kuliah. Selain itu, 52 persen responden memanfaatkan teknologi ini guna menyusun rencana karier masa depan, sementara 33 persen lainnya menggunakannya untuk mengatur jadwal harian.

    Lebih dari sekadar alat bantu pengerjaan tugas, AI kini telah bertransformasi menjadi teman diskusi yang cerdas bagi para pelajar. Teknologi ini sering diposisikan sebagai guru kedua yang membantu memahami materi rumit, melakukan riset mendalam, hingga merancang ide untuk kebutuhan presentasi.

    Melihat fenomena adopsi teknologi yang kian cepat ini, PT Telkom Indonesia mengambil langkah strategis dengan menggandeng Google Indonesia. Kolaborasi ini difokuskan pada perluasan edukasi serta pemanfaatan AI yang lebih merata di lingkungan pendidikan melalui integrasi solusi digital dan konektivitas.

    VP Enterprise Marketing & Growth Telkom, Reni Yustiani, menyatakan bahwa transformasi sektor pendidikan memerlukan dukungan infrastruktur teknologi yang mumpuni. Tujuannya adalah memperluas akses pembelajaran sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di era digital saat ini.

    Reni menambahkan bahwa arah transformasi digital pendidikan diharapkan mampu menciptakan peluang belajar yang lebih inklusif dan adaptif. Melalui kerja sama dengan mitra global seperti Google Indonesia, Telkom berkomitmen menghadirkan solusi yang mampu meningkatkan produktivitas serta memperkuat kolaborasi bagi para tenaga pendidik dan pelajar.

    Langkah ini juga dipersiapkan untuk mencetak generasi muda yang siap bersaing di kancah global. Kolaborasi tersebut menggabungkan layanan Google Workspace for Education serta Gemini AI Pro dengan jaringan konektivitas Telkom yang luas, bahkan hingga menjangkau daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.

    Kehadiran teknologi ini diharapkan mampu mempermudah seluruh civitas akademika dalam proses belajar mengajar. Telkom menegaskan bahwa mereka akan terus memperluas kemitraan dengan berbagai pihak untuk mengakselerasi transformasi digital nasional.

    Inisiatif ini merupakan bagian dari visi besar perusahaan dalam memperkuat ekosistem digital di Indonesia. Dengan dukungan teknologi yang tepat, pengembangan sumber daya manusia diharapkan mampu menghadapi tantangan era ekonomi digital yang semakin kompetitif di masa depan.

  • Jangan Tertipu Nama, Ini Bedanya Layar OLED dan AMOLED pada Smartphone Anda

    Jangan Tertipu Nama, Ini Bedanya Layar OLED dan AMOLED pada Smartphone Anda

    Saat berburu ponsel baru, spesifikasi layar menjadi salah satu poin krusial yang menentukan pengalaman pengguna. Di kelas menengah hingga premium, istilah OLED dan AMOLED sering muncul sebagai fitur unggulan. Meski sekilas terdengar sama, keduanya membawa perbedaan signifikan yang memengaruhi performa visual hingga konsumsi daya baterai.

    OLED atau Organic Light-Emitting Diode merupakan teknologi yang memanfaatkan material organik untuk menghasilkan cahaya sendiri. Tanpa memerlukan lampu latar atau backlight, setiap piksel pada panel ini mampu memancarkan cahayanya secara mandiri. Hal ini memungkinkan layar menghasilkan warna hitam yang jauh lebih pekat dan kontras yang tajam.

    Secara teknis, teknologi OLED dasar menggunakan sistem Passive Matrix atau PMOLED. Sistem ini bekerja dengan mengaktifkan baris dan kolom piksel secara bergantian. Karena mekanismenya yang sederhana, teknologi ini kurang optimal jika diaplikasikan pada layar resolusi tinggi atau perangkat berukuran besar.

    Di sisi lain, AMOLED adalah evolusi lebih lanjut dari OLED. Teknologi ini mengusung Active Matrix Organic Light-Emitting Diode yang dilengkapi lapisan transistor film tipis atau TFT. Penambahan komponen ini memungkinkan setiap piksel dikendalikan secara individu dan lebih presisi. Hasilnya, layar AMOLED menawarkan respon yang jauh lebih cepat, stabil, dan mendukung kepadatan piksel tinggi.

    Dari sisi visual, keduanya memang unggul dibanding layar LCD karena kemampuan mematikan piksel secara mandiri saat menampilkan warna hitam. Namun, ada perbedaan karakter warna. OLED cenderung menyuguhkan reproduksi warna yang lebih natural dan akurat. Sementara itu, AMOLED lebih menonjolkan saturasi warna yang pekat dan cerah sehingga tampak lebih hidup untuk bermain gim atau menonton film.

    Kelebihan lain dari AMOLED adalah kemampuannya dalam mendukung refresh rate tinggi. Pergerakan gambar di layar terasa jauh lebih mulus saat pengguna melakukan scrolling atau menjalankan konten cepat. Hal ini menjadi standar penting bagi ponsel masa kini yang mengutamakan kenyamanan visual.

    Soal efisiensi, keduanya sama-sama hemat energi karena piksel hanya menyala saat dibutuhkan. Namun, sistem active matrix pada AMOLED mampu mengelola konsumsi daya dengan lebih cerdas. Pengguna bisa semakin menghemat baterai dengan mengaktifkan mode gelap atau dark mode yang memaksimalkan piksel mati pada layar.

    Meskipun canggih, pengguna tetap perlu waspada terhadap risiko burn-in. Masalah ini muncul sebagai bayangan permanen akibat tampilan statis yang terus-menerus dalam waktu lama. Untuk mengatasinya, produsen kini menyematkan fitur pergeseran piksel otomatis dan kecerahan adaptif agar usia layar lebih panjang.

    Teknologi ini pun terus berkembang. Saat ini sudah ada LTPO AMOLED yang mampu menyesuaikan refresh rate secara dinamis, hingga inovasi seperti Tandem OLED, QD-OLED, hingga MicroLED yang menawarkan kecerahan lebih tinggi tanpa risiko burn-in. Memahami perbedaan dasar ini akan memudahkan Anda memilih perangkat yang tepat sesuai kebutuhan harian.