Sutradara Yosep Anggi Noen membagikan pandangannya mengenai perbedaan mendasar antara novel ‘Laut Bercerita’ karya Leila S. Chudori dengan adaptasi filmnya yang baru saja dirilis. Ia menjelaskan bahwa salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana menerjemahkan narasi yang kaya dan kompleks dalam novel menjadi sebuah pengalaman visual yang imersif bagi penonton.
Dalam sebuah sesi bincang-bincang, Anggi Noen menyoroti bahwa novel ‘Laut Bercerita’ memiliki kedalaman naratif yang memungkinkan pembaca untuk menyelami berbagai sudut pandang dan emosi para tokoh. “Novel itu kan memberikan ruang yang sangat luas untuk imajinasi pembaca. Kita bisa berlama-lama dengan pikiran satu karakter, atau melompat ke masa lalu dan masa depan dengan mudah,” ujarnya.
Berbeda dengan novel, film memiliki keterbatasan waktu dan medium visual. Anggi Noen harus memikirkan cara agar esensi cerita, terutama mengenai isu pelanggaran hak asasi manusia yang diangkat, tetap tersampaikan dengan kuat tanpa kehilangan nuansa emosionalnya. Ia menekankan pentingnya memilih momen-momen krusial yang mampu mewakili keseluruhan cerita.
Salah satu aspek yang ia fokuskan adalah bagaimana menghadirkan kembali semangat penindasan dan perjuangan yang digambarkan dalam novel. “Kita harus menemukan cara sinematik untuk menunjukkan apa yang dirasakan oleh para tokoh, bukan hanya menceritakannya,” jelas Anggi Noen. Ia juga menambahkan bahwa pemilihan aktor yang tepat menjadi kunci untuk menghidupkan karakter-karakter tersebut di layar.
Proses adaptasi ini, menurut Anggi Noen, bukan sekadar memindahkan cerita dari satu media ke media lain, melainkan sebuah interpretasi ulang yang harus tetap menghormati sumber aslinya. Ia berharap film ‘Laut Bercerita’ dapat memberikan perspektif baru bagi penonton, sekaligus mengajak mereka untuk merenungkan kembali peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Indonesia yang diangkat oleh Leila S. Chudori.
