Manado, portal24.id – Ingin untung besar dengan cara dilakoni Pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Baka Umum (SPBU) Tugu Adipura jl. Adipura Raya Paniki. SPBU ini ternyata adalah milik salah seorang ‘Pejabat yang saat ini menduduki jabatan Kepala Daerah.
Ketika ditemui media ini, Pengawas di SPBU yang mengaku bernama Clif membeberkan pihaknya menjual Solar subsidi ke mafia solar seharga Rp 7.200 per liter dari harga normal Rp 6.800 per liter. “Disini supir-supir torang (kami-red) minta bayar solarnya harga Rp 7.200 per liter. Solar tiap hari masuk dalam 1 minggu hanya 2 kali, yaitu Senin dan Kamis” terang Cliff.
Setelah meraup keuntungan lebih dari harga penjualan Solar yang telah ditetapkan Pertamina, menurut pengakuan Supir-supir, pihak SPBU ini juga mewajibkan setiap supir dump truck menyetor uang sebesar Rp 25.000 per supir. Tak jelas peruntukan uang yang ditagihkan ke para supir dump truck dari mafia Solar ini.
Fakta lainnya yang ditemui, lagi-lagi nama penimbun Solar Subsidi terbesar di Sulut, Kifli, disebut menguasai SPBU tersebut. Sekitar 10 hingga 13 unit armada dump truck milik Kifli mendapat keistimewaan untuk menyedot solar dari SPBU ini.
Kifli pun diketahui menguasai beberapa SPBU di kota Manado, seperti SPBU di Dendengan Dalam, 2 SPBU di Ring Road, SPBU depan TMP Kairagi, SPBU Politeknik dan SPBU Kombos.
Informasi yang berhasil dirangkum redaksi Portal24.id, untuk mengelabui aparat keamanan, Kifli memiliki 2 unit mobil tangki pengangkut BBM Solar yang sengaja di cat biru menyerupai mobil tangki pengangkut BBM Solar Industri. Kenderaan ini digunakan untuk mengangkut Solar Subsidi ke beberapa industri di Kota Cakalang.
Antrian panjang puluhan armada dump truk, untuk menyedot solar bersubsidi menjadi pemandangan yang lazim di SPBU ini setiap Senin dan Kamis dini hari. Ratusan ribu liter Solar Bersubsidi yang berhasil disedot dari berbagai SPBU ini akan dijual kembali ke industri yang ada di Sulut dengan menggunakan harga Industri.
Puluhan supir dump truk yang bukan orangnya mafia solar ini, mengeluh dengan sikap diamnya Kepolisian RI dalam hal ini Polda Sulut. “Kami yang digunakan sebagai angkutan bahan dan barang sangat susah mendapatkan solar. Harus megantri berjam-jam. Pemerintah dan Aparat Penegak Hukum Saya lihat hanya diam saja”‘ ujar Demsy mengeluhkan nasibnya berapa hari lalu.


Tinggalkan Balasan