Cedera Pinggul yang Sering Terabaikan: Mengenal Robekan Tendon Gluteus, ‘Rotator Cuff’ Pinggul Anda

Rini Widiyarti

Robekan tendon gluteus, yang kerap disamakan dengan cedera rotator cuff pada bahu, ternyata merupakan kondisi yang cukup umum terjadi, terutama pada wanita berusia 40 hingga 70 tahun. Fenomena ini sering kali luput dari diagnosis yang tepat, membuatnya menjadi salah satu cedera pinggul dan panggul yang paling sering terdiagnosis salah.

Jovan R. Laskovski, MD, FAANA, seorang profesor bedah ortopedi di Crystal Clinic Orthopaedic Center, menekankan betapa umum cedera ini sebenarnya. “Ini jauh lebih sering terjadi daripada yang Anda kira,” ujar Laskovski kepada Healio. Ia menambahkan bahwa seringkali diagnosisnya tertunda atau bahkan tidak terdeteksi.

Meskipun literatur medis melaporkan prevalensi robekan tendon gluteus berkisar antara 10% hingga 25% pada pasien, Laskovski mengungkapkan bahwa angka sebenarnya bisa lebih tinggi. Banyak pasien yang mengalami nyeri pinggul kronis, namun penyebabnya tidak teridentifikasi dengan benar. Mereka mungkin didiagnosis dengan kondisi lain seperti bursitis atau nyeri punggung bawah.

Tendon gluteus, yang menghubungkan otot gluteus (bokong) ke tulang panggul, berperan penting dalam gerakan pinggul. Robekan pada tendon ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penuaan, degenerasi tendon seiring waktu, atau cedera akibat aktivitas fisik berulang. Gejala umumnya meliputi nyeri di sisi luar pinggul, yang bisa memburuk saat berbaring miring, berjalan, atau naik tangga.

Laskovski menjelaskan bahwa diagnosis yang akurat sangat krusial untuk penanganan yang efektif. Pemeriksaan fisik yang cermat oleh dokter spesialis ortopedi, ditambah dengan pencitraan seperti MRI, seringkali diperlukan untuk mengonfirmasi adanya robekan tendon gluteus. Penanganan dini dapat mencegah perburukan kondisi dan memulihkan fungsi pinggul.

Pilihan penanganan untuk robekan tendon gluteus bervariasi, mulai dari terapi konservatif hingga intervensi bedah. Terapi konservatif biasanya meliputi istirahat, modifikasi aktivitas, obat antiinflamasi, dan fisioterapi. Namun, untuk kasus robekan yang signifikan atau ketika terapi konservatif tidak memberikan hasil, opsi bedah menjadi pertimbangan utama.

Prosedur bedah dapat berupa perbaikan tendon secara langsung atau menggunakan teknik artroskopi untuk meminimalkan invasivitas. Tujuan utama operasi adalah untuk menyambungkan kembali tendon yang robek ke tulang, sehingga mengembalikan kekuatan dan fungsi otot gluteus. Pemulihan pascaoperasi memerlukan program rehabilitasi yang terstruktur untuk mengembalikan mobilitas dan kekuatan pinggul secara bertahap.

Mengingat tingginya angka kejadian dan potensi kesalahan diagnosis, kesadaran akan robekan tendon gluteus perlu ditingkatkan. Pasien yang mengalami nyeri pinggul yang persisten, terutama wanita di atas 40 tahun, disarankan untuk berkonsultasi dengan profesional medis untuk mendapatkan diagnosis yang tepat dan penanganan yang sesuai. Mengenali ‘rotator cuff’ pinggul Anda adalah langkah awal menuju pemulihan yang optimal.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All