Fenomena langka tersaji di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah. Surutnya permukaan air waduk akibat musim kemarau panjang telah menyingkap keberadaan sejumlah makam kuno yang selama ini terendam. Peristiwa ini menjadi pemandangan tak biasa bagi warga sekitar dan menarik perhatian.
Kejadian ini bukanlah kali pertama terjadi. Camat Giritontro, Wagiman, menjelaskan bahwa munculnya makam-makam kuno ini merupakan fenomena yang rutin terjadi setiap kali musim kemarau melanda. “Ini memang sudah menjadi langganan setiap musim kemarau,” ujar Wagiman.
Kondisi air waduk yang terus menyusut hingga mencapai titik terendah membuka akses ke area yang sebelumnya tertutup genangan air. Di dasar waduk yang kini kering, nampak jelas jajaran batu-batu nisan yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun. Keberadaan makam-makam ini mengindikasikan adanya pemukiman atau situs bersejarah yang tergenang saat pembangunan Waduk Gajah Mungkur.
Wagiman menambahkan bahwa fenomena ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, terutama saat musim liburan. Banyak warga yang memanfaatkan kesempatan ini untuk melihat langsung makam-makam kuno tersebut. Sebagian dari mereka bahkan meyakini adanya nilai sejarah dan spiritual dari penemuan ini.
Meskipun menjadi pemandangan yang menarik, fenomena surutnya air waduk hingga menampakkan makam kuno ini juga menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan sumber daya air. Ketergantungan pada pasokan air dari waduk membuat surutnya debit air menjadi perhatian serius, terutama bagi kebutuhan irigasi pertanian dan pasokan air bersih bagi masyarakat di sekitarnya. Namun demikian, kehadiran makam kuno ini memberikan perspektif unik tentang sejarah wilayah yang kini terendam.
