Belgia menampilkan performa gemilang dan memetik kemenangan telak 4-1 atas tuan rumah Amerika Serikat dalam babak 16 besar Piala Dunia 2026. Di balik kemenangan meyakinkan tersebut, terungkap adanya rasa "ketidakadilan" yang menyelimuti skuad Belgia. Hal ini dipicu oleh keputusan FIFA yang menangguhkan sanksi kartu merah striker AS, Folarin Balogun, jelang pertandingan krusial tersebut.
Balogun, yang berusia 25 tahun, awalnya dipastikan absen dalam laga melawan Belgia setelah menerima kartu merah langsung akibat pelanggaran keras terhadap bek Bosnia-Herzegovina, Tarik Muharemovic, di babak sebelumnya. Namun, pada Minggu, FIFA mengumumkan penangguhan sanksi larangan bermain satu pertandingan selama 12 bulan.
Keputusan ini menuai kritik luas dari berbagai pihak. UEFA, timnas Belgia, bahkan pelatih timnas Inggris, Thomas Tuchel, menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap putusan tersebut. Puncaknya, pada Senin, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa ia telah meminta FIFA untuk meninjau kembali sanksi Balogun. Trump berargumen bahwa penangguhan tersebut akan meninggalkan "noda besar" pada turnamen.
Meskipun Balogun akhirnya diizinkan bermain dan bahkan masuk dalam susunan pemain utama, hal itu justru menjadi cambuk bagi para pemain Belgia. Gelandang Belgia, Nicolas Raskin, mengungkapkan perasaan yang berkecamuk di ruang ganti. "Banyak hal terjadi di luar lapangan selama dua hari terakhir," ujar Raskin. "Ada rasa ketidakadilan dalam skuad, dan kami bertekad untuk membalasnya di lapangan."
Kapten Belgia, Youri Tielemans, menegaskan bahwa insiden tersebut justru memacu semangat timnya. "Kami mengatakan kepada diri sendiri bahwa kami harus merespons di lapangan. Itulah yang kami lakukan," katanya.
Setelah mencetak gol keempat, beberapa pemain Belgia terlihat melakukan tarian yang mengingatkan pada ‘Trump dance’. Gerakan khas tersebut, yang menampilkan pinggul bergoyang dan lengan memompa perlahan, sempat menjadi viral selama kampanye presiden AS tahun 2024. Akun Instagram resmi timnas Belgia juga seolah mengejek situasi tersebut dengan mengunggah foto striker Romelu Lukaku yang menangkupkan telinga dengan keterangan "overturn this" (batalkan ini).
Sebelumnya, Trump menyatakan bahwa FIFA telah membuat "keputusan yang tepat" dan penangguhan tersebut akan meninggalkan "noda besar" pada turnamen jika tetap diterapkan. Ia mengonfirmasi telah berbicara dengan Presiden FIFA, Gianni Infantino, namun menegaskan hanya meminta peninjauan kembali dan tidak mendikte keputusan. Trump menambahkan bahwa ia percaya keputusan penangguhan berasal dari komite, bukan FIFA secara keseluruhan.
Federasi Sepak Bola Kerajaan Belgia (RBFA) sebelumnya telah menyatakan "terkejut" dengan penangguhan sanksi Balogun. RBFA bahkan telah memberitahu Federasi Sepak Bola Amerika Serikat bahwa mereka "menentang kelayakan" Balogun untuk bermain dalam pertandingan tersebut. Permohonan banding RBFA ditolak oleh komite FIFA, yang menganggap Belgia bukan pihak yang berkepentingan dalam keputusan awal.
Thomas Tuchel, pelatih timnas Inggris, menyebut putusan tersebut sebagai preseden berbahaya. UEFA pun menyatakan bahwa campur tangan yang membatalkan sanksi di sebuah turnamen telah "melintasi batas merah". Jarell Quansah, bek timnas Inggris, juga mendapat kartu merah dalam kemenangan dramatis atas Meksiko. "Di mana batasnya adalah pertanyaan yang saya ajukan," ujar Tuchel. "Saya tidak punya jawabannya."
Dalam sejarah Piala Dunia, hanya sekali pemain lolos dari sanksi kartu merah otomatis, yaitu Garrincha dari Brasil pada tahun 1962, sebelum adanya aturan sanksi otomatis.

Leave a Reply