Jakarta, Indonesia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan mengalami kondisi yang lebih kering dan durasinya lebih panjang dari rata-rata normal di sebagian besar wilayah Indonesia. Prediksi ini sejalan dengan terus bertahannya fenomena El Nino yang diperkirakan akan berlangsung hingga awal tahun 2027.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa El Nino diprediksi akan tetap bertahan dengan peluang intensitas moderat sebesar 98 persen dan bahkan mencapai kategori kuat dengan peluang 62 persen. Dampak El Nino ini akan sangat terasa ketika berinteraksi dengan periode musim kemarau, yang diperkirakan akan berlangsung hingga pertengahan Oktober mendatang.
Menurut prakiraan BMKG, durasi musim kemarau tahun ini akan bervariasi antara tiga hingga tujuh bulan, tergantung pada karakteristik geografis masing-masing wilayah. Ardhasena merinci bahwa potensi musim kemarau yang lebih panjang diprediksi melanda 437 Zona Musim (ZOM), yang mencakup sekitar 48,77 persen dari total luas daratan Indonesia.
Sebaliknya, sebanyak 70 ZOM atau sekitar 8,32 persen luas daratan Indonesia diprediksi akan mengalami durasi musim kemarau yang normal. Sementara itu, 79 ZOM yang meliputi 9,23 persen luas daratan Indonesia diperkirakan akan mengalami musim kemarau yang lebih pendek.
Beberapa wilayah di Indonesia telah mulai merasakan dampak musim kemarau sejak bulan Mei lalu. Memasuki bulan Juni, BMKG memproyeksikan 198 ZOM, atau sekitar 31,60 persen dari luas daratan, akan mengalami kemarau. Wilayah-wilayah ini meliputi sebagian besar Sumatra, Kalimantan Barat, sebagian besar Banten, Jakarta bagian selatan, Jawa Tengah bagian tengah dan barat, serta sebagian kecil Jawa Timur.
Selain itu, kemarau di bulan Juni juga diprediksi melanda Kalimantan Barat bagian selatan, sebagian besar Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan bagian tengah, sebagian besar Kalimantan Timur, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat, dan Papua bagian timur.
Untuk bulan Juli, sebanyak 66 ZOM yang mencakup 7,28 persen wilayah Indonesia diprediksi akan memasuki periode kemarau. Wilayah-wilayah ini antara lain Jambi bagian barat, sebagian Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan bagian timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku Utara, dan sebagian Maluku.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menambahkan bahwa puncak musim kemarau tahun 2026 diperkirakan akan terjadi secara bertahap di berbagai wilayah. Pada bulan Juli, puncak kemarau diprediksi mencakup 83 Zona Musim (ZOM), yang setara dengan 12,26 persen luas daratan Indonesia. Wilayah yang mengalami puncak kemarau di bulan ini meliputi sebagian Sumatra, sebagian kecil Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian tengah, dan Papua bagian timur.
Memasuki bulan Agustus, yang merupakan puncak musim kemarau bagi mayoritas wilayah Indonesia, sebanyak 369 ZOM atau sekitar 48,84 persen luas daratan akan merasakan kondisi paling kering. Wilayah ini mencakup sebagian besar Sumatra bagian tengah, hampir seluruh Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua.
Sedangkan bagi sebagian wilayah lainnya, puncak musim kemarau baru akan terjadi pada bulan September. Sebanyak 169 ZOM, yang setara dengan 25,41 persen luas daratan, diprediksi baru akan mencapai puncak kekeringannya di bulan ini. Wilayah-wilayah yang dimaksud meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Pegunungan bagian tengah.
Kondisi musim kemarau yang lebih panjang dan kering ini berpotensi menimbulkan berbagai dampak, mulai dari peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), penurunan ketersediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian, hingga potensi gangguan pada sektor energi yang bergantung pada pasokan air. Oleh karena itu, kesiapsiagaan dari pemerintah daerah, masyarakat, hingga sektor terkait menjadi sangat krusial dalam menghadapi periode kering yang diprediksi lebih intens tahun ini.
BMKG terus memantau perkembangan cuaca dan iklim secara intensif untuk memberikan informasi terkini guna membantu mitigasi dan adaptasi terhadap dampak musim kemarau yang lebih panjang ini. Masyarakat dihimbau untuk bijak dalam penggunaan air dan selalu waspada terhadap potensi bencana terkait kekeringan dan kebakaran.

Leave a Reply