Jakarta – Aktris Acha Septriasa menorehkan gebrakan baru di industri perfilman Indonesia. Ia resmi mendirikan rumah produksi bernama Avarta Media, menandai ambisinya untuk menyajikan karya yang kaya akan kedalaman emosi dan kualitas cerita. Langkah ini bukan sekadar mengejar keuntungan semata, melainkan juga membidik pengakuan di kancah festival film internasional.
Proses pendirian Avarta Media telah melalui tahapan matang. Mulai dari pematangan naskah hingga seleksi pemain yang sangat ketat. Acha tidak sendiri dalam mewujudkan mimpi ini. Ia menggandeng dua pengusaha berpengalaman, Arya Setiadharma dan Ardi Setiadharma. Keduanya memiliki keselarasan visi dengan Acha mengenai potensi besar industri kreatif Indonesia.
Ardi Setiadharma menjelaskan bahwa pertemuan dengan Acha membuka jalan bagi visi misi mereka yang saling melengkapi. Kolaborasi ini didasari keyakinan bersama terhadap potensi industri kreatif tanah air.
Selain fokus pada aspek artistik, Avarta Media juga memprioritaskan keberlanjutan bisnis. Mereka berkomitmen setiap proyek memiliki nilai investasi sehat bagi mitra. Ardi belajar dari tren investasi film yang marak. Ia memastikan investor tidak kecewa.
Motivasi utama Acha mendirikan Avarta Media adalah mengangkat cerita yang dekat dengan budaya dan pasar Indonesia. Ia ingin menghadirkan narasi relevan, inspiratif, bahkan berani menyentuh isu tabu. Acha melihat banyak potensi cerita menarik yang belum tergarap. Ia berharap karyanya bisa selaras dengan pengalaman penonton.
Proyek perdana Avarta Media adalah film "9 Aku, Love Heals". Film ini merupakan adaptasi kisah nyata Wella, teman dekat tim produksi. Wella mengidap Dissociative Identity Disorder (DID) akibat trauma masa kecil. Ia memiliki sembilan kepribadian berbeda. Trauma itu berasal dari kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya.
Acha terinspirasi perjuangan Wella. Ia ingin film ini meningkatkan pemahaman publik tentang dampak jangka panjang trauma masa lalu.
Selanjutnya, Avarta Media akan menggarap adaptasi film dari karya Ika Natassa, berjudul "Satine". Film ini mengangkat tema kesepian atau urban loneliness di perkotaan. Acha antusias karena ceritanya relevan bagi orang dewasa masa kini.
Ia melihat banyak orang sukses karier namun merasa hampa. Perasaan terasing di tengah keramaian inilah yang ingin divisualisasikan secara jujur. Acha berharap keterlibatannya dalam proyek ini memberi perspektif matang bagi industri film nasional. Ia ingin penonton menemukan refleksi diri melalui karya Avarta Media.
Avarta Media berambisi meningkatkan kualitas narasi perfilman nasional. Fokus pada isu sosial dan kesehatan mental menjadi nilai tambah. Struktur manajemen yang menggabungkan keahlian seni dan strategi bisnis diharapkan membawa Avarta Media menjadi pemain kunci industri kreatif. Dengan rencana matang, Acha Septriasa siap menyajikan karya autentik bagi penikmat film Indonesia.

Leave a Reply