Paris – Masa depan politik Marine Le Pen, politikus kawakan sayap kanan Prancis, akan segera menemui titik terang. Pengadilan banding Paris dijadwalkan membacakan putusan pada Selasa (waktu setempat), mengenai banding atas vonis kasus penggelapan dana. Keputusan ini krusial, tidak hanya bagi Le Pen pribadi, tetapi juga berpotensi mengguncang peta persaingan pemilihan presiden Prancis tahun depan.
Le Pen, yang telah tiga kali mencalonkan diri sebagai presiden, kali ini memimpin survei elektabilitas. Ia berhadapan dengan Emmanuel Macron dalam dua pemilu terakhir. Namun, jika ia terhalang maju, tampuk kepemimpinan partai Rassemblement National (RN) akan diserahkan pada Jordan Bardella. Vonis yang akan turun hari ini bisa jadi penentu siapa yang akan bertarung memperebutkan kursi kepresidenan Prancis.
Ambang Batas Kasus Penggelapan Dana
Kasus yang membelit Le Pen bermula dari vonis pada 31 Maret 2025. Pengadilan menyatakan Le Pen bersalah menggelapkan dana sebesar 1,4 juta Euro dari Parlemen Eropa. Dana tersebut diduga digunakan untuk membayar karyawan partainya antara tahun 2004 hingga 2016. Kala itu, Le Pen menjabat sebagai anggota Parlemen Eropa. Ia dijatuhi hukuman penjara empat tahun, dengan dua tahun ditangguhkan dan dua tahun dijalani di rumah dengan gelang elektronik.
Vonis tersebut secara otomatis melarang Le Pen memegang jabatan publik selama lima tahun, yang membuatnya terancam absen dari pemilu 2027. Dalam persidangan banding yang digelar Januari dan Februari lalu, Le Pen membantah terlibat langsung dalam skema tersebut. Ia mengakui adanya "kesalahan" yang membuat staf parlemennya turut bekerja untuk kepentingan partai. Jaksa penuntut meminta agar larangan lima tahun tetap berlaku, dengan hukuman penjara empat tahun, satu tahun dijalani dengan gelang elektronik dan tiga tahun ditangguhkan.
Le Pen menyatakan siap menghadapi putusan, namun ia menilai tidak mungkin maju sebagai calon presiden jika harus menjalani hukuman dengan gelang elektronik. "Ketika Anda seorang kandidat presiden, Anda harus benar-benar bebas bergerak. Saya tidak bisa bergantung pada hakim untuk mengizinkan saya mengadakan rapat umum atau pergi ke pasar," ujarnya.
Siapa Marine Le Pen?
Putri bungsu Jean-Marie Le Pen ini mengambil alih kepemimpinan Front Nasional pada 2011. Ia bertekad membersihkan citra partai yang didirikan ayahnya. Pada 2015, ia secara tegas memutus hubungan dengan sang ayah akibat pandangan kontroversial ayahnya. Tiga tahun kemudian, partai berganti nama menjadi Rassemblement National (RN). Meski dua kali kalah dari Macron, di bawah kepemimpinannya RN meraih hasil pemilu terbaik pada 2024, mengamankan 143 kursi di Majelis Nasional.
Le Pen sering mengklaim dirinya sebagai korban ketidakadilan hukum Prancis. Ia merasa diperlakukan berbeda dibanding pemimpin partai lain yang juga terjerat kasus serupa. Namun, hakim menilai Le Pen berada di "jantung" skema pekerjaan palsu tersebut.
Potensi Putusan dan Dampaknya
Ada beberapa kemungkinan putusan. Jika Le Pen dibebaskan, ia dapat maju ke pemilihan presiden dengan citra yang bersih. Namun, skenario ini dinilai kecil kemungkinannya. Jika pengadilan memutuskan ia bersalah dan melarangnya menjabat lebih dari dua tahun, ia tidak bisa mencalonkan diri. Larangan tersebut dihitung sejak vonis awal pada Maret 2025.
Putusan yang berbeda akan terjadi jika larangan menjabat hanya dua tahun atau kurang. Dalam hal ini, ia masih bebas untuk maju. Skenario lain adalah hukuman penjara dengan gelang elektronik. Jika jaksa penuntut menang, Le Pen akan menghadapi satu tahun dengan gelang elektronik.
Le Pen sendiri menyatakan akan terus berjuang untuk ide-idenya, terlepas dari putusan pengadilan. Ia dijadwalkan memberikan pernyataan resminya pada Selasa malam setelah putusan dibacakan.
Rencana Cadangan: Jordan Bardella
Sejak 2022, Jordan Bardella telah memimpin RN sebagai ketua partai. Ia bergabung dengan tim kampanye Le Pen sejak usia muda. Setelah vonis penggelapan dana tahun lalu, Le Pen telah menyiapkan Bardella sebagai kandidat pengganti. Bardella sendiri telah menyatakan dukungan penuh untuk Le Pen. Jika Le Pen terpilih presiden, ia berjanji menunjuk Bardella sebagai perdana menteri. Namun, ia siap menyerahkan peran calon presiden jika dihalangi oleh hukum.
Menariknya, dalam beberapa survei terbaru, Bardella justru sedikit unggul dari Le Pen. Keduanya diprediksi meraih lebih dari 30% suara di putaran pertama. Namun, lawan politiknya menilai Le Pen akan menjadi ancaman yang lebih besar dalam putaran kedua, mengingat minimnya pengalaman politik Bardella yang baru akan berusia 31 tahun.
Terdakwa Lainnya
Selain Le Pen, 24 orang lainnya dinyatakan bersalah pada Maret 2025, termasuk anggota Parlemen Eropa dan pejabat partai. Sebagian mengajukan banding atas putusan tersebut. Di antaranya adalah Louis Aliot, wakil presiden RN, yang dijatuhi hukuman enam bulan penjara di rumah dengan gelang elektronik. Nicolas Bay, mantan sekretaris jenderal Front Nasional, juga menerima hukuman serupa. Bruno Gollnisch, tokoh Front Nasional lainnya, dijatuhi hukuman satu tahun dengan gelang elektronik. Catherine Griset, mantan ajudan Le Pen, dilarang memegang jabatan publik selama dua tahun.

Leave a Reply